Vidiosex 5menit

Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Tante Mira (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah perumahan ini daripada saya. Ya, seperti situ.” “Lho, mbok ya bilang saja sama suaminya. siapa tahu ada rejeki, si putri tunggalnya itu bisa punya adik. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini ‘kan juga ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng.” “O, itu, toh. Mungkin suaminya butuh variasi atau model yang agak macem-macem, gitu.” “Ya, seperti apa ya, Jeng. Sama seperti saya juga kalau misalnya saya yang mau duluan.””Terus apa cuma gitu saja, Jeng.” “O, ya tidak. Rasanya buat saya, ya, nikmat juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk begituan. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat tidurnya cukup besar dan dengan kasur busa. Kumasukan lidahku ke dalam celah bibir kemaluannya yang sudah mulai membuka. Hangat sekali dan cairannya mulai keluar dan terasa agak asin dan baunya yang khas mulai menyengat ke dalam lubang hidungku.

‘Kan suami saya selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya.” Kemudian Tante Mira agak berpikir, mungkin ragu-ragu antara mau atau tidak. Kepalaku aku angkat dan terlihat Tante Mira mulai berani menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke liang kewanitaanku. Dahinya agak berkerut tetapi dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di antara bibir kemaluan saya. Tante Mira pun bertanya karena gerak kaki dan badanku berhenti, “Gimana, Jeng? ””Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya adik. Ngomong-ngomong, Jeng mau nggak kalo’ kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi? Saya ‘kan cuma kasih contoh saja.”, jawabku sembari mengangkat bahu dan Tante Mira hanya tersenyum. Rus teruu.” Bibir kemaluanku terasa dikulum oleh bibir mulut Tante Mira. Gerakan ke atas ke bawah melingkar ke seluruh liang kewanitaanku. Kemudian aku suruh dia untuk menyisipkan lidahnya ke dalam liang kewanitaanku. Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan aku merintih, “aa.. Sialan Tante Mira tampaknya masih asyik menjilati sedangkan badanku sudah mulai lemas dan lelah. Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo’ situ lantas bisa jadi lesbian juga.Aku sedikit sadar dan ketakutan ketika Mama tiba tiba bergerak dan membuka mata Mama Nuna menatapku tajam Ngapain Ndy Koq kamu telanjang juga tanya Mama.

Maaf ma Andy khilaf abis nafsu liat Mama telanjang gitu jawabku takut takut Kamu mulai nakal ya kata Mama sambil tangannya memelukku erat Ya udah Mama juga pengen peluk kamu udah lama Mama nggak dipeluk papamu Mama tadi kegerahan makanya Mama telanjang nggak taunya kamu masuk jelas Mama. Gerakan lidahnya masih terasa kaku, tetapi ini sudah merupakan perkembangan. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih hebat dengan suaminya nanti. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, aku angkat kepalaku dan kulihat Tante Mira sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan, rupanya rasa jijik sudah mulai sirna. Enak sekali Bu.” Dengan spontan kedua tangannya langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Terlihat Tante Mira sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati liang kewanitaanku. Aku mulai naik dan terasa lubang kemaluanku semakin hangat, mungkin lendir kemaluanku sudah banyak yang keluar. Untuk lebih nikmat Tante Mira kusuruh, “Pegang dan elus-elus paha saya. Sudah sama layaknya aku main dengan suamiku sendiri. Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku tanpa henti.Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya? Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng.” “Wah, Tante Mira ini, kok, seperti kurang pergaulan saja, toh.” “Lho, terus terang Jeng. Lalu aku menyentuh payudaranya yang agak bulat tetapi tidak terlalu besar, “Lumayan juga, lho, Bu.” Lalu Tante Mira pun langsung memegang payudaraku juga sambil berkata, “Sama juga seperti punya Jeng.” Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia langsung menyanggupi. Tetapi lumayanlah, dengan cara seperti ini aku secara tidak langsung sudah menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi. Tapi saya tutup mata saja, ah.” Lalu kucium bibir kemaluannya sekali, chuph!! Aah.”, Tante Mira mengerang dan agak mengangkat badannya. Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Saya keluarkan lidah dan saya sentuhkan ujungnya ke bibir kemaluannya berkali-kali. Badan Tante Mira bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan drastis.